Sunday, October 23, 2011

pagi ini, sebuah ilham tiba-tiba merasuk kedalam otakku, dan tiba-tiba hati ini menjadi sangat damai.. Tebak apa? Walau saat ini segalanya masih terasa sulit, banyak yang perlu kuperbaiki, tapi hati ini tak merasa begitu berat.. Mungkin Tuhan sedang meringankan bebanku saat ini. Terima Kasih, ya Allah.. :)
saat ini, kulepaskan hatiku dengan bebas, dengan lepas, ku bebaskan dia dari penjara rasa cintaku dengan harapan jika dia memang seseorang yang Tuhan takdirkan, tanpa kuundang kembali pun, dia pasti merelakan dirinya untuk berada di sisiku sampai nanti.Allah tidak pernah ingkar, betul?

Sekarang, aku belajar lagi. Hidup adalah kemungkinan, tapi ditangan Allah lah kepastian itu nyata, dan itu memang ada. Aku berfikir walau berat, tapi persahabatanku indah. Batu terjal di perjalanan persahabatan ku, kuanggap sebagai ajang pendewasaanku dan pendewasaan bagi mereka. Aku dianugerahkan dengan begitu banyak cinta, terutama dari sahabatku. Bagaimana mungkin dengan keji kusia-siakan cinta itu? Mungkin saat ini Allah sedang menguji kesetiaanku, tapi dalam balutan doaku, selalu kuharap mereka bahagia, dan tak sedetikpun kucoba untuk menjauh atau dengan keji pergi tanpa pamit. Aku sayang mereka, sahabatku yang bahkan sudah seperti saudaraku sendiri. :)

ah, saat ini entah kenapa rasanya aku ingin jujur.. Kurelakan seseorang dengan orang lain saat ini, dengan harapan jika dia takdirku, suatu hari dia akan kembali padaku tanpa harus kuundang untuk hadir--seperti bau hujan. Tapi aku sama sekali tak berniat untuk melangkah sedikitpun dari tempatku, tak maju, tak mundur. Aku menunggu--entah sampai kapan. Aku masih sangat menyayanginya, walau aku tak benar-benar berharap dapat bersamanya kelak. Sungguh lucu, kukatakan padanya aku menyerah, aku rela tapi tak sedikitpun hatiku ingin beranjak dari tempatnya. Seperti dengan sabar menunggu suatu hal yang sudah pasti tak akan pernah terjadi. Tapi, boleh kan jika hanya ingin berharap bahagia dalam hal ini juga? Selain persahabatan, aku memang butuh hal ini untuk menopangku. Dia yang sudah menyadarkanku akan kecilnya diriku di tengah dunia yang luas ini, dia yang sudah mengingatkanku untuk tetap berada di jalan-Nya, dan membuatku bahkan lebih mencintai Allah SWT daripada apapun. Inikah yang disebut cinta haqiqi? Yang hanya merasakannya aku langsung merasa rindu.. Kurindu semangat itu, aku rindu kata-kata dorongan itu.

Renungan malam ini, membuat perasaan ini mengaduk, tercampur menjadi satu. Sedih, senang, kesal, cemburu, harapan, semuanya menjadi satu.

Aku mencintaimu, sahabat-sahabatku..
Aku menyayangimu, orang yang sekarang kuharapkan kebahagiaannya.
Aku sangat mencintaimu, satu-satunya yang kusembah dan cintai karena dia Maha Segalanya, Allah SWT.


Terdengar lantunan lagu : you're in my heart - Aoi Kaji (Mamoru Miyano) Kiiniro no corda secondo passo.

Saturday, October 1, 2011

matahari sudah menunjukan titik kelelahan dalam menyinari dan menghangati alam dunia
tapi disaat ia ingin berganti shift dengan rembulan,
sang bulan terduduk, memeluk tubuhnya sendiri dalam hampa pekat malam yang mulai datang
sang bulan menangis, merasa daerah kekuasaannya telah di porak porandakan oleh-- awan.

Kelam, gelap, sepi, sesak -- seolah malam ingin menghukum bulan untuk berhenti menjadi egois dan berbagi dengan para bintang di barisan rasi indah sang malam.
Dan awan pun berkata,
"aku tak akan mungkin membiarkan tubuhku ini menghalangimu untuk menampakan keindahanmu.. Tugasku adalah untuk menaungimu, berjalan beriringan dalam pekat malam yang menghancurkanmu."

perlahan sang rembulan mendongakan wajahnya
dengan parau suaranya ia berkata dalam lirih,
"benarkah? "
tersungging senyuman manis di balik indahnya cahaya yang ia berikan pada sang malam hingga mampu mengalahkan sinaran rasi bintang di jazirah langit malam
sang awan menepuk kepala sang bulan dengan perlahan,
"aku tak dapat sepenuhnya menaungimu, hany dapat mengiringi"
sang bulan kemudian tersenyum..
"bukankah itu memang tugasmu? Menaungi hanyalah tugas sang malam, sang awan hanya perlu mengiringi, dengan begitu, baik aku, dan para bintang disana serta matahari tidak akan pernah merasa sendirian"

malam tak lagi pekat
malam tak lagi sunyi
malam tak lagi sepi
malam tak lagi sesak
nyanyian para binatang malam mengalun indah menina bobokan para mahluk ciptaan Tuhan dalam harmoni tata surya yang berkilauan
sang bulan tak lagi merasa sedih
sang bulan tak lagi merasa sesak, pekat, sepi dan sendiri
awan hadir untung mengiringi dan menenangkannya
malam bersedia untung menaunginya dalam melodi merdu angin sepoi di dalam gelap
bintang menemaninya dan tak lagi berlomba untuk memberikan cahaya pada sang malam
dan matahari
siap untuk memangku rembulan tatkala cahayanya redup tertutup awan jahat kelam

rembulan tak lagi tersenyum sepi
ia tak lagi memeluk tubuhnya sendiri dalam kesendirian
mereka bersamanya, melindunginya, menaunginya, dan melukiskan tawa di wajahnya

bulan kini tak lagi menjadi kisah
tapi bagian dari melodi indah tata surya yang menyejukan hati