Posts

Showing posts from November, 2011
Bicara soal jodoh, ada yang tahu tepatnya seperti apa? Akhir-akhir ini bahasan dimana-dimana, disekitar saya, bahkan di bacaan juga seminar yang cukup menggiurkan untuk didatangi semuanya nyaris membahas soal ini. Tapi tapi, digaris bawahin dulu ya, jodoh bukan berarti cuman hubungan antara pria sama wanita, pertemanan, karir, bahkan sekolah pun itu berhubungan dengan jodoh. Jadi jodoh itu seperti apa? Saya mengerti jodoh itu ketetapan Allah yang pasti, takdir Allah yang kekal, seperti didalam al-Qur'an, layaknya hidup dan mati, jodoh juga suatu hal yang mutlak yang Allah takdirkan pada manusia. Tapi tunggu dulu, kenapa sekarang mendadak saya pengen ngebahas soal jodoh? Haha.. Bukan apa-apa, ini cuman mengatasi keraguan dan kerisauan hati kala menyebut soal hal ini. Gimana tidak, pasangan yang berumah tangga saja bisa cerai, na'udzubillahimindzalik.. Itu artinya, seperti kelahiran dan kematian, jodoh juga rahasia Allah, bukan?

Jangankan berumah tangga, bersahabat saja bisa kan…

takut..

Saat ini bahkan aku tak berani untuk berfikir bagaimana perasaannya padaku, tak berani menebak, tak berani mengawang. Takut. Takut bahwa bukan perasaan sayang yang dia miliki melainkan benci, takut bahwa bukan perasaan cinta yang dia miliki melainkan kasihan.. Hingga akhirnya fikiranku bermuara pada satu hal: cemburu.

Aku cemburu kerap kali menatap pada sorot mata teduh itu, karena kadang dalam tatapan teduh itu, tak ada bayanganku memantul dari kornea matanya, tak ada rasa itu muncul kala menatap ku dengan tatapan itu. Hingga akhirnya kembali aku bertanya, pada siapa sorot itu tertuju? Pada siapa rasa itu tertuju? Pada siapa tangisan itu tertuju?

Aku tau kamu sebanyak aku tahu isi hatimu.. Tapi kamu tak tahu aku, bagaimana aku, dan mengapa aku tetap bertahan seperti ini. Sakitmu adalah sakitku, bahagiamu adalah bahagiaku.. Tapi mungkin bahagiaku bukan bahagiamu, sakitku bukan sakitmu.. Aku tak merasakan itu.. Aku seperti badut bodoh yang terus ada disisimu,menanti suatu hari akan ada…
Jika mencintainya adalah bahagiamu,
Ku pastikan Tuhan menyambut rasamu dengan ridho-Nya,
Ku pastikan senyumku tulus dengan ikhlasnya..
Ku pastikan bahagia yang ingin kau jemput adalah sekumpulan doa dan harapku dalam
sujud malam ku..

Dahulu aku berwarna..
Bertemu denganmu warnaku sempat menghilang,
dan kini ku coba melukis warnaku kembali,
karena aku tak butuh dilukis
hanya butuh dilengkapi
agar warnaku tak habis terkikis..

Ironis kah?
Dalam mataku yang terpejam,
aku sibuk mencari sosokmu yang kian lama kian berbayang tak berbentuk,
aku nyaris lupa bagaimana sketsa wajahmu tergores
aku nyaris lupa bagaimana lekukan bibirmu membentuk senyum manis..
Aku nyaris lupa bagaimana warna bola matamu dan cara mata itu memandang..
Andaikan kau seperti ombak di pantai,
yang walaupun pergi menyapu pasir,
tapi pasti akan kembali membawa riak air..
Sayangnya kau bukan ombak itu,
bahkan tak berani aku memejam mata lagi..
Karena takut semakin lama bayangmu semakin menghilang..

Jika mencintainya adalah bahagiamu..
Ku pastik…
Selamat malam dunia, kabar baik? Bicara soal renungan, boleh ya untuk merenung sedikit?
Saya mungkin terus mencoba untuk memperbaiki diri, walau hasilnya ya saya mungkin sedikit banyak jadi lebih diam. Mulutmu harimaumu itu memang nyata. Mungkin bagi saya bercanda itu berarti berbagi kebahagiaan dengan orang lain, tapi manusia punya caranya masing-masing dalam mengartikan maksud, betul?
Bisa saja ada yang menyimpan dendam, yang berakhir dengan membuatnya berpenyakit hati. Saya rugi? Jelas tidak.. Yang rugi mungkin dia karena harus selalu memikirkan betapa dia membenci saya dan bagaimana caranya untuk menghancurkan saya. Sungguh ironis.

Fikiran saya semuanya bermuara di satu tempat, yang membuat saya kini merasa bahwa keberadaan saya mulai menjadi parasit bagi nya. Yah, syukur-syukur sih bukan, karna saya ga pernah ngelakuin hal yang aneh.. Tidak juga saya merepotkan orang-orang, kalo saya masih bisa mandiri, lalu hal yang harus saya lakukan itu adalah menjadi mandiri tentu saja.

Karen…