Sunday, August 23, 2015

これでいいわー

Dia itu lucu.
Kadang rasanya aku marah, marah sekali padanya. Dia menyebalkan, mengesalkan. Apapun tentangnya membuatku ingin selalu mengeluarkan amarahku. Tapi kemudian aku tersadar. Kemarahanku bukan tidak beralasan. Dibandingkan kemarahanku padanya, aku lebih marah pada diriku sendiri yang tidak pernah bisa berkata "hentikan, aku cemburu" ketika dia mulai berbicara ini itu tentang oranglain. Bodohnya, aku pernah punya sifat posesif dan hei, itu menyebalkan. Aku sering marah padanya. Tidak lain karna cemburu.

Dia itu lucu.
Berada di dekatnya aku merasa sangat nyaman. Aku yang sekarang2 ini memang sulit mengeluarkan ekspresi, tertawapun sudah tak seperti dulu. Dengannya, emosi itu sedikit demi sedikit mulai kembali. Ekspresi wajah bermacam2 walaupun tak sama persis mulai kulukiskan.

Dan aku ini lucu.
Aku tau persis ini tak berbalas, tapi bersamanya selalu menyenangkan. Ya, karna dia jadi dirinya sendiri sehingga membuatku berekspresi juga. Dia cepat panik, plinplan, jujur, KY itu selalu terlihat nyaman di dekatku.

Begini saja tidak apa. Aku akan menunggu sambil berusaha. Karna bagaimanapun, akulah yg lebih dulu mengawalinya,

Jadi..

Aku akan mengakhiri semuanya.

Saturday, August 8, 2015

息苦しい

Ada kalanya rasanya sulit sekali untuk bernafas. Adapun kalanya rasanya sulit mensyukuri hal yang ada pada diri, ketika kita terlalu banyak melihat orang lain. Sesak. Semua terlihat dan terasa sangat salah. Kebahagiaan rasanya jauh dari pandangan. Bodohnya, mulai ada pikiran jangan-jangan Allah SWT marah makanya saya ditinggalkan.

Sesak.

Saya tidak pernah sulit untuk memahami bahwa bersyukur adalah obat dari segala permasalahan, berterima kasih akan nikmat sekecil apapun yg Allah berikan dalam hidup. Tapi akhir-akhir ini, saya tidak tau bagaimana bersyukur dengan baik. Selalu sesak. Selalu kecewa.

Satu persatu rasanya mulai berjalan menuju jalan yang lebih baik, mencari kebahagiaan,  mengambil tangan orang lain. Saya mungkin iri, karena ketika saya ingin melakukan hal yang sama agar saya tidak tertinggal, tangan yang ingin saya raih bahkan tak mengulurkan tangannya.
Saya mungkin iri, karena ketika saya ingin melakukan hal sama, lagi dan lagi tangan saya dihempas. Tangan mereka saling bersambut, sementara saya terhempas. Lihat, betapa sulitnya untuk bersyukur.

Sesak.

Mengapa mencintai itu sesakit ini rasanya? Hakikatnya cinta sendiri tidak pernah membentuk rasa sakit. Berada pada sisi emosional yang seperti ini, semakin sulit rasanya untuk bernafas.

Mengapa berjuang hidup itu sesakit ini rasanya? Hakikatnya hidup sendiri tak pernah mengijinkan sakit masuk ke dalam diri. Sungguh sesak.

Saya tidak tau, harus dengan cara apa sesak ini hilang. Sesak yang bertubi2 datang. Belum sembuh yang lama, yang barupun ikut terkoyak.

Sesak.

----hai. Saya mempunyai rasa untukmu. Selama ini saya pikir saya akan cukup gembira menjadi bagian yang agak penting untukmu--teman baik. Tapi kau tau? Akhir-akhir ini saya mulai serakah. Ingin perhatianmu, ingin menjadi seseorang yang kau ceritakan pada orang lain seperti bagaimana kamu dengan antusiasnya bercerita tentang orang-orang yang kamu sukai, dan satu orang di masa lalu yang sering berhasil buatmu membatu dengan pikiran-pikiran tak terkendali, tentang penyesalan dan harapan kosong.
Kapan giliran saya? Apakah ada kemungkinan walaupun hanya 0,1% bahwa kamu memikirkan  saya?

Maaf,

Kau tau, mungkin kau adalah alasan sesaknya yg selalu saya rasakan. Alasan saya sulit bersyukur.

Maaf.

Saya ingin meraih tanganmu, sama seperti mereka yang ingin meraih tangan orang-orang yang mereka ingin raih..

Maaf, saya mencintaimu. Akan saya hapus perasaan ini jika kau keberatan.

Bantu saya agar tak sesak...