Tuesday, December 15, 2015

Aku dan secangkir kopi (?)

Aku suka menulis. Bagaimanapun, menulis adalah terapi kejiwaan, satu-satunya penyembuh bagi aku yg tidak mudah mengungkap. Ya, terlebih menulis di jam-jam sekarang ini. Ketika hampir 80% manusia di belahan bumi yg sama denganku sedang bermain bersama alam bawah sadar mereka.
Menulis bagaikan obat candu yg jika tidak kulakukan aku tidak akan tenang. Menulis adalah anti-depresan untukku. Ya, tentu saja belum bisa mengalahkan secangkir kopi.

Orang bilang, kopi identik dengan pelarian dari kenyataan. Mungkin benar. Saat penat, aromanya yg harum dan kandungan kafein di dalamnya merupakan anti depresan tidak langsung tanpa berbentuk kapsul. Aku suka kopi. Aku suka bagaimana aromanya membuat pernapasanku yg kadang tercekat oleh penatnya kegiatan sehari-hari menjadi lebih nyaman. Kopi dan menulis adalah hal yg membuatku tenang.

Pada dasarnya aku bukanlah orang yg tangguh seperti yg orang-orang lihat. Dan bagiku, tidak ada orang yg setangguh itu. Kalaupun ada, mungkin dia sudah hidup ribuan tahun dan berhasil melalui segala rintangan kehidupan yg dihadapi (laughs). Orang yg tangguh itu punya back up. Orang yg sendirian itu mana bisa dikatakan tangguh. Tangguh, kokoh, kuat, ada pondasi kan? Ya, maka dari itu. Pondasiku lemah. Aku gampang sekali ambruk, ya, walaupun tak kuperlihatkan pada siapapun. (Laughs)  Aku sering melihat ke belakang dan orang bilang itu tidak baik. Tapi aku suka melihat ke belakang, melihat bagaimana aku pernah sangat tangguh. Aku pernah luar biasa. Orang disekitarku memanggilku narsis. Kemana itu semua hari ini?
Mungkin dulu aku tidak begitu suka kopi (laughs) karena aku punya banyak orang di sekitarku. Mungkin kini aku suka kopi, karena volume orang di sekitarku semakin mengecil, menyempit. Tanpa kusadari aku mulai membangun tembok terus menerus sehingga orang enggan mendekat. Aku sudah tidak asik lagi. (Laughs)
Aku sering rindu saat-saat itu. Saat aku tak punya waktu untuk menulis hal seperti ini karena waktuku kuhabiskan untuk orang sekitar. Mengapa aku jadi seperti ini?

Aku teramat sangat suka menulis. Terkadang setiap harinya, di kala senggang, aku ingin menuliskan semua yg kualami, semua yg kurasakan hari itu. Seperti dulu. Tapi aku mengurungkan niat. "Aku bukan anak kecil", aku membatin. Padahal kalau saja setiap waktu luang itu kusempatkan untuk sekedar 'mengeluh' aku tidak akan seperti ini. Aku terlalu sering berpikir bahwa mengeluh bukan hal yg baik. Walau sebenarnya kita perlu mengeluh, agar saat itu kita sadar yg kita keluhkan itu tidak ada apa-apanya.
Aku rindu aku yg dulu. Tapi akupun tidak mau jadi aku yg dulu. Mengapa aku selemah ini?

Ada hal yg lebih baik disimpan saja sendiri, atau tidak usah disimpan sama sekali. Seperti perasaan jatuh cinta. Aku masih takut untuk menfokuskan diriku pada perasaan 'jatuh cinta' yg dulu kupikir sangat mudah. Kali ini tidak. Kali ini sulit. Aku sering mempertanyakan diriku sendiri, jangan-jangan akulah yg mempersulit diriku sendiri?
Kata orang, berani mengungkap itu juga termasuk cinta. Teringat kata-kata dari heroine starry sky yg sedang kumainkan,

Di dunia ini, tidak ada perasaan cinta yang tidak ada rasa sakit didalamnya.

Itu artinya, jika aku masih takut untuk seperti itu, aku belum siap menerima resiko dari perasaan yg kumiliki...

Jujur saja yang kutakutkan bukan perasaanku yg tidak berbalas, tapi hubungan renggang yg akan terjadi jika penolakan lah yg terjadi.  Ada hubungan yg sama sekali tak ingin kurusak. Ada sebuah element yg tidak boleh hilang seiring volume orang sekitarku yg semakin menyempit.
Lalu aku harus bagaimana?
Menunggu itu melelahkan, tahu.

Belum waktunya

Setiap kali kudengar kata itu, aku mulai membenci diriku yang tidak sabaran. Aku sering menjadi kufur. Allah lah yg mengatur semuanya makanya belum waktunya, tapi hatiku sering menjerit.

Aku harus bagaimana...

Bagaimana bisa orang bilang aku tangguh, mengatasi hatiku sendiri saja aku tidak bisa. Bagaimana bisa mereka melihatku kuat...

Aku tak mengerti.

Sama tak mengertinya dengan ampas kopi yg seharusnya tidak usah ada.